PENGERTIAN SISTEM
KEAMANAN INFORMASI
Sistem keamanan Informasi adalah Manajemen pengelolaan keamanan
yang bertujuan mencegah, mengatasi, dan melindungi berbagai sistem informasi
dari resiko terjadinya tindakan ilegal seperti penggunaan tanpa izin,
penyusupan, dan perusakan terhadap berbagai informasi yang di miliki.
RESIKO TERHADAP KEAMANAN SISTEM INFORMASI
Resiko
terhadap keamanan sistem
informasi mencakup
dua hal utama yaitu Ancaman terhadap keamanan sistem informasi dan Kelemahan
atau adanya lubang keamanan yang terbuka atau biasa disebut vulnerability
1.
Ancaman (threats)
Ancaman adalah aksi yang
terjadi baik dari dalam sistem maupun dari luar sistem yang dapat mengganggu
keseimbangan sistem informasi. Ancaman yang mungkin timbul dari kegiatan
pengolahan informasi berasal dari 3 hal utama, yaitu :
- Ancaman
Alam
Yang termasuk dalam kategori ancaman alam terdiri atas :
·
Ancaman air, seperti :
Banjir, Stunami, Intrusi air laut, kelembaban tinggi, badai, pencairan salju
·
Ancaman Tanah, seperti :
Longsor, Gempa bumi, gunung meletus
·
Ancaman Alam lain,
seperti : Kebakaran hutan, Petir, tornado, angin ribut
B. Ancaman Manusia
Yang dapat dikategorikan
sebagai ancaman manusia, diantaranya adalah :
·
Malicious code
·
Virus, Logic bombs,
Trojan horse, Worm, active contents, Countermeasures
·
Social engineering
·
Hacking, cracking, akses
ke sistem oleh orang yang tidak berhak, DDOS, backdoor
·
Kriminal
·
Pencurian, penipuan,
penyuapan, pengkopian tanpa ijin, perusakan
·
Teroris
·
Peledakan, Surat kaleng,
perang informasi, perusakan
C. Ancaman Lingkungan
Yang dapat dikategorikan
sebagai ancaman lingkungan seperti :
·
Penurunan tegangan
listrik atau kenaikan tegangan listrik secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu
yang cukup lama
·
Polusi
·
Efek bahan kimia seperti
semprotan obat pembunuh serangga, semprotan anti api, dll
·
Kebocoran seperti A/C,
atap bocor saat hujan
Besar kecilnya suatu
ancaman dari sumber ancaman yang teridentifikasi atau belum teridentifikasi
dengan jelas tersebut, perlu di klasifikasikan secara matriks ancaman sehingga
kemungkinan yang timbul dari ancaman tersebut dapat di minimalisir dengan
pasti. Setiap ancaman tersebut memiliki probabilitas serangan yang
beragam baik dapat terprediksi maupun tidak dapat terprediksikan seperti
terjadinya gempa bumi yang mengakibatkan sistem informasi mengalami mall
function.
2. Kelemahan (vurnerability)
Kelemahan ini bisa timbul pada saat
menetapkan sebuah prosedur pada alur informasi atau perancangan desain aplikasi
informasi yang dilakukan tanpa memperhatikan resiko keamanan yang terjadi. Penerapan Penggunaan Firewall,
akses terbatas, atau pemutusan hubungan dapat dijadikan sebagai tindakan
pencegahan sementara hingga celah atau lubang keamanan dapat diperbaiki.
Masalah yang terjadi pada sistem informasi
dapat mengakibatkan banyak masalah pada pengelolaan manajemen informasi itu
sendiri, baik dari segi kerahasiaan, integritas, efektifitas maupun efisiensi.
Untuk menjamin keamanan
sistem informasi, sebuah struktur manajemen keamanan informasi
harus sudah dibangun sedemikan ketatnya. Beberapa hal utama yang perlu
diperhatikan dalam membangun sebuah struktur manajemen keamanan informasi
adalah
·
Manajeman akses kontrol terhadap sistem yang dipakai
·
Media Telekomunikasi dan jaringan yang digunakan.
·
Efektifitas manajemen praktis
·
Sistem aplikasi yang digunakan dan dikembangkan
·
Penerapan Cryptographs yang mengacak informasi secara terstruktur.
·
Manajemen Disaster Recovery Plan atau tindakan pencegahan serta perencanaan
recovery terhadap sebuah kasus yang terjadi.
·
Akses hukum dan penerapan investigasi serta kode etik
Suatu pendekatan keamanan sistem informasi minimal menggunakan 3 pendekatan, yaitu :
1.Pendekatan preventif yang bersifat mencegah
dari kemungkinan terjadikan ancaman dan kelemahan
2.Pendekatan detective yang bersifat
mendeteksi dari adanya penyusupan dan proses yang mengubah sistem dari keadaan
normal menjadi keadaan abnormal
3.Pendekatan Corrective yang bersifat
mengkoreksi keadaan sistem yang sudah tidak seimbang untuk dikembalikan dalam
keadaan normal
Tindakan tersebutlah
menjadikan bahwa keamanan sistem informasi tidak dilihat hanya dari kaca mata
timbulnya serangan dari virus, mallware, spy ware dan masalah lain, akan tetapi
dilihat dari berbagai segi sesuai dengan domain keamanan sistem itu sendiri.
TUJUAN
KEAMANAN SISTEM INFORMASI
Asfek yang merupakan
tujuan dari keamanan sistem informasi meliputi 3 asfek yaitu :
A.
Integrity
Integrity merupakan aspek
yang menjamin bahwa data tidak boleh berubah tanpa ijin pihak yang berwenang (authorized). Untuk aplikasi
e-procurement, aspek integrity ini sangat penting. Data yang telah dikirimkan
tidak dapat diubah oleh pihak yang berwenang. Pelanggaran terhadap hal ini akan
berakibat tidak berfungsinya sistem e-procurement.
Secara teknis ada
banyak cara untuk menjamin aspek integrity ini, seperi misalnya dengan
menggunakan messange
authentication code, hash
function, digital
signature.
B.
Confidentiality
Confidentiality merupakan aspek
yang menjamin kerahasiaan data atau informasi. Sistem yang digunakan untuk
mengimplementasikan e-procurement harus dapat menjamin kerahasiaan data yang
dikirim, diterima dan disimpan. Bocornya informasi dapat berakibat batalnya
proses pengadaan.
Kerahasiaan ini dapat
diimplementasikan dengan berbagai cara, seperti misalnya menggunakan teknologi
kriptografi dengan melakukan proses enkripsi (penyandian, pengkodean) pada
transmisi data, pengolahan data (aplikasi dan database), dan penyimpanan data
(storage). Teknologi kriptografi dapat mempersulit pembacaan data tersebut bagi
pihak yang tidak berhak.
Seringkali perancang
dan implementor dari sistem informasi atau sistem transaksi elektronik lalai
dalam menerapkan pengamanan. Umumnya pengamanan ini baru diperhatikan pada
tahap akhir saja sehingga pengamanan lebih sulit diintegrasikan dengan sistem
yang ada. Penambahan pada tahap akhir ini menyebabkan sistem menjadi tambal
sulam. Akibat lain dari hal ini adalah adanya biaya yang lebih mahal daripada
jika pengamanan sudah dipikirkan dan diimplementasikan sejak awal.
Akses terhadap
informasi juga harus dilakukan dengan melalui mekanisme otorisasi (authorization) yang ketat. Tingkat
keamanan dari mekanisme otorisasi bergantung kepada tingkat kerahasiaan data
yang diinginkan.
C.
Availability
Availability merupakan aspek
yang menjamin bahwa data tersedia ketika dibutuhkan. Dapat dibayangkan efek
yang terjadi ketika proses penawaran sedang dilangsungkan ternyata sistem tidak
dapat diakses sehingga penawaran tidak dapat diterima. Ada kemungkinan
pihak-pihak yang dirugikan karena tidak dapat mengirimkan penawaran, misalnya.
Hilangnya layanan
dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari benca alam (kebakaran, banjir,
gempa bumi), ke kesalahan sistem (server rusak, disk rusak, jaringan putus),
sampai ke upaya pengrusakan yang dilakukan secara sadar (attack). Pengamanan
terhadap ancaman ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem backup dan
menyediakan disaster recovery
center (DRC) yang dilengkapi dengan panduan untuk melakukan
pemulihan (disaster recovery plan).
PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI
Untuk menjaga keamanan sistem informasi
diperlukan pengendalian terhadap sistem informasi. Kontrol ini mencakup mencakup:
A.
Kontrol Administratif
Mempublikasikan kebijakan kontrol yang membuat
semua pengendalian sistem informasi dapat dilaksanakan dengan jelas dan serius
oleh semua pihak dalam organisasi Prosedur yang bersifat formal dan standar
pengoperasian disosialisasikan dan dilaksanakan dengan tegas. Termasuk dalam
hal ini adalah proses pengembangan sistem, prosedur untuk backup, pemulihan
data, dan manajemen pengarsipan data Perekrutan pegawai secara berhati-hati, yang
diikuti dengan orientasi, pembinaan, dan pelatihan yang diperlukan
B.
Kontrol terhadap Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem
Melibatkan Auditor sistem, dari masa
pengembangan hingga pemeliharaan sistem, untuk memastikan bahwa sistem
benar-benar terkendali, termasuk dalam hal otorisasi pemakai sistem Aplikasi
dilengkapi dengan audit trail sehingga kronologi transaksi mudah untuk
ditelusuri
C.
Kontrol Operasi
Tujuan agar sistem beroperasi sesuai dengan yang
diharapkan, yang termasuk dalam hal ini adalah :
·
Pembatasan akses terhadap pusat data
·
Kontrol terhadap personel pengoperasi
·
Kontrol terhadap peralatan (terhadap kegagalan)
·
Kontrol terhadap penyimpan arsip
·
Pengendalian terhadap virus
D.
Perlindungan Fisik Terhadap Pusat Data
Faktor lingkungan yang menyangkut suhu,
kebersihan, kelembaban udara, bahaya banjir, dan keamanan fisik ruangan perlu
diperhatikan dengan benar Untuk mengantisipasi kegagalan sumber daya
listrik, biasa digunakan UPS dan mungkin juga penyediaan generator
E.
Kontrol Perangkat Keras
Untuk mengantisipasi kegagalan sistem komputer,
terkadang organisasi menerapkan sistem komputer yang berbasis fault-tolerant
(toleran terhadap kegagalan) Toleransi terhadap kegagalan pada penyimpan
eksternal antara lain dilakukan melalui disk mirroring atau disk shadowing,
yang menggunakan teknik dengan menulis seluruh data ke dua disk secara paralel
F.
Kontrol Akses Terhadap Sistem Komputer
Setiap pemakai sistem diberi otorisasi yang
berbeda-beda Setiap pemakai dilengkapi dengan nama pemakai
dan password. Penggunaan teknologi yang lebih canggih
menggunakan sifat-sifat biologis manusia yang bersifat unik, seperti sidik jari
dan retina mata, sebagai kunci untuk mengakses system
G.
Kontrol Terhadap Akses Informasi
Penggunaan enkripsi
Sumber:
http://faridmohammad24.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment