SEMOGA BERMANFAAT

Wednesday, March 12, 2014

Tugas Sistem Keaman Informasi II

Sistem Homogen

Sistem homogen adalah suatu sistem yang di support satu vendor saja komputer dimana sistem operasi, hardware atau aplikasi semua sama.

Keuntungan sistem Homogen :
1.      Pengguna tidak perlu mempelajari sistem yang berbeda
2.      Memudahkan Technical Support dalam hal maintenance
3.      Pengelolaan dan perawatan lebih mudah  karena hanya membeli satu license Operating Sistem


Kerugian sistem Homogen :
1.      Akan menjadi tergantung dengan 1 vendor aja
2.      Rentan Terhadap Sisi Keamanan, karena memiliki satu Sistem Operasi yang sama, satu kena Spy atau SPAM yang lain akan mudah terkena juga, karen kesamaan sistem dan konfigurasi.


Sistem Heterogen

Sistem heterogen adalah suatu sistem yang di support banyak vendor komputer dimana sistem operasi, hardware atau aplikasi berneda.

Kelebihan sistem Heterogen :
1.      Lebih Aman dari serangan dari Luar, karena memiliki  sistem operasi yang berbeda-beda, dengan begitu konfigurasi setiap sistem operasi pun berbeda.


Kerugian sistem Heterogen :
1.      Biaya akan lebih mahal karena kita akan membeli banyak licensi untuk sistem operasi Misal. Windows, Unix, Mac, Linux, dll.
2.      Maintenence yang lebih sulit : Karena perbedaan sistem dan konfigurasi dengan otomatis itu akan menyulitkan dari sisi perawatan sistem operasi.
3.      Butuh orang lebih banyak untuk menangani minimal 1 orang untuk menghandle 1 sistem operasi.
Nama, IP, dan Pemilik Perusahaan
Nama Perusahaan : Twitter Inc
Pemilik Perusahaan :  
1.      Jack Dorsey
2.      Noah Glass
3.      Evan Williams
4.      Biz Stone
IP Perusahaan : 199.59.148.10


Sumber :




Wednesday, March 5, 2014

PENGERTIAN SISTEM KEAMANAN INFORMASI
Sistem keamanan Informasi adalah Manajemen pengelolaan keamanan yang bertujuan mencegah, mengatasi, dan melindungi berbagai sistem informasi dari resiko terjadinya tindakan ilegal seperti penggunaan tanpa izin, penyusupan, dan perusakan terhadap berbagai informasi yang di miliki.
RESIKO TERHADAP KEAMANAN SISTEM INFORMASI 
Resiko terhadap keamanan sistem informasi mencakup dua hal utama yaitu Ancaman terhadap keamanan sistem informasi dan Kelemahan atau adanya lubang keamanan yang terbuka atau biasa disebut vulnerability
1.      Ancaman (threats)
Ancaman adalah aksi yang terjadi baik dari dalam sistem maupun dari luar sistem yang dapat mengganggu keseimbangan sistem informasi.  Ancaman yang mungkin timbul dari kegiatan pengolahan informasi berasal dari 3 hal utama, yaitu :
  1. Ancaman Alam
Yang termasuk dalam kategori ancaman alam terdiri atas :
·   Ancaman air, seperti : Banjir, Stunami, Intrusi air laut, kelembaban tinggi, badai, pencairan salju
·   Ancaman Tanah, seperti : Longsor, Gempa bumi, gunung meletus
·   Ancaman Alam lain, seperti : Kebakaran hutan, Petir, tornado, angin ribut
         B.     Ancaman Manusia
Yang dapat dikategorikan sebagai ancaman manusia, diantaranya adalah :
·   Malicious code
·   Virus, Logic bombs, Trojan horse, Worm, active contents, Countermeasures
·   Social engineering
·   Hacking, cracking, akses ke sistem oleh orang yang tidak berhak, DDOS, backdoor
·   Kriminal
·   Pencurian, penipuan, penyuapan, pengkopian tanpa ijin, perusakan
·   Teroris
·   Peledakan, Surat kaleng, perang informasi, perusakan 
         C.     Ancaman Lingkungan
Yang dapat dikategorikan sebagai ancaman lingkungan seperti :
·   Penurunan tegangan listrik atau kenaikan tegangan listrik secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu yang cukup lama
·   Polusi
·   Efek bahan kimia seperti semprotan obat pembunuh serangga, semprotan anti api, dll
·   Kebocoran seperti A/C, atap bocor saat hujan
Besar kecilnya suatu ancaman dari sumber ancaman yang teridentifikasi atau belum teridentifikasi dengan jelas tersebut, perlu di klasifikasikan secara matriks ancaman sehingga kemungkinan yang timbul dari ancaman tersebut dapat di minimalisir dengan pasti.  Setiap ancaman tersebut memiliki probabilitas serangan yang beragam baik dapat terprediksi maupun tidak dapat terprediksikan seperti terjadinya gempa bumi yang mengakibatkan sistem informasi mengalami mall function. 

2.      Kelemahan (vurnerability)
Kelemahan ini bisa timbul pada saat menetapkan sebuah prosedur pada alur informasi atau perancangan desain aplikasi informasi yang dilakukan tanpa memperhatikan resiko keamanan yang terjadi. Penerapan Penggunaan Firewall, akses terbatas, atau pemutusan hubungan dapat dijadikan sebagai tindakan pencegahan sementara hingga celah atau lubang keamanan dapat diperbaiki.
Masalah yang terjadi pada sistem informasi dapat mengakibatkan banyak masalah pada pengelolaan manajemen informasi itu sendiri, baik dari segi kerahasiaan, integritas, efektifitas maupun efisiensi.
Untuk menjamin keamanan sistem informasi, sebuah struktur manajemen keamanan informasi harus sudah dibangun sedemikan ketatnya. Beberapa hal utama yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah struktur manajemen keamanan informasi adalah
·         Manajeman akses kontrol terhadap sistem yang dipakai
·         Media Telekomunikasi dan jaringan yang digunakan.
·         Efektifitas manajemen praktis
·         Sistem aplikasi yang digunakan dan dikembangkan
·         Penerapan Cryptographs yang mengacak informasi secara terstruktur.
·         Manajemen Disaster Recovery Plan atau tindakan pencegahan serta perencanaan recovery terhadap sebuah kasus yang terjadi.
·         Akses hukum dan penerapan investigasi serta kode etik


Suatu pendekatan keamanan sistem informasi minimal menggunakan 3 pendekatan, yaitu :
1.Pendekatan preventif yang bersifat mencegah dari kemungkinan terjadikan ancaman dan kelemahan
2.Pendekatan detective yang bersifat mendeteksi dari adanya penyusupan dan proses yang mengubah sistem dari keadaan normal menjadi keadaan abnormal
3.Pendekatan Corrective yang bersifat mengkoreksi keadaan sistem yang sudah tidak seimbang untuk dikembalikan dalam keadaan normal
Tindakan tersebutlah menjadikan bahwa keamanan sistem informasi tidak dilihat hanya dari kaca mata timbulnya serangan dari virus, mallware, spy ware dan masalah lain, akan tetapi dilihat dari berbagai segi sesuai dengan domain keamanan sistem itu sendiri.

TUJUAN KEAMANAN SISTEM INFORMASI
Asfek yang merupakan tujuan dari keamanan sistem informasi meliputi 3 asfek yaitu :
     A.     Integrity
Integrity merupakan aspek yang menjamin bahwa data tidak boleh berubah tanpa ijin pihak yang berwenang (authorized). Untuk aplikasi e-procurement, aspek integrity ini sangat penting. Data yang telah dikirimkan tidak dapat diubah oleh pihak yang berwenang. Pelanggaran terhadap hal ini akan berakibat tidak berfungsinya sistem e-procurement.
Secara teknis ada banyak cara untuk menjamin aspek integrity ini, seperi misalnya dengan menggunakan messange authentication code, hash function, digital signature.
      B.     Confidentiality
Confidentiality merupakan aspek yang menjamin kerahasiaan data atau informasi. Sistem yang digunakan untuk mengimplementasikan e-procurement harus dapat menjamin kerahasiaan data yang dikirim, diterima dan disimpan. Bocornya informasi dapat berakibat batalnya proses pengadaan.
Kerahasiaan ini dapat diimplementasikan dengan berbagai cara, seperti misalnya menggunakan teknologi kriptografi dengan melakukan proses enkripsi (penyandian, pengkodean) pada transmisi data, pengolahan data (aplikasi dan database), dan penyimpanan data (storage). Teknologi kriptografi dapat mempersulit pembacaan data tersebut bagi pihak yang tidak berhak.
Seringkali perancang dan implementor dari sistem informasi atau sistem transaksi elektronik lalai dalam menerapkan pengamanan. Umumnya pengamanan ini baru diperhatikan pada tahap akhir saja sehingga pengamanan lebih sulit diintegrasikan dengan sistem yang ada. Penambahan pada tahap akhir ini menyebabkan sistem menjadi tambal sulam. Akibat lain dari hal ini adalah adanya biaya yang lebih mahal daripada jika pengamanan sudah dipikirkan dan diimplementasikan sejak awal.
Akses terhadap informasi juga harus dilakukan dengan melalui mekanisme otorisasi (authorization) yang ketat. Tingkat keamanan dari mekanisme otorisasi bergantung kepada tingkat kerahasiaan data yang diinginkan.
     C.     Availability
Availability merupakan aspek yang menjamin bahwa data tersedia ketika dibutuhkan. Dapat dibayangkan efek yang terjadi ketika proses penawaran sedang dilangsungkan ternyata sistem tidak dapat diakses sehingga penawaran tidak dapat diterima. Ada kemungkinan pihak-pihak yang dirugikan karena tidak dapat mengirimkan penawaran, misalnya.
Hilangnya layanan dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari benca alam (kebakaran, banjir, gempa bumi), ke kesalahan sistem (server rusak, disk rusak, jaringan putus), sampai ke upaya pengrusakan yang dilakukan secara sadar (attack). Pengamanan terhadap ancaman ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem backup dan menyediakan disaster recovery center (DRC) yang dilengkapi dengan panduan untuk melakukan pemulihan (disaster recovery plan).

PENGENDALIAN  SISTEM INFORMASI 
Untuk menjaga keamanan sistem informasi diperlukan pengendalian terhadap sistem informasi. Kontrol ini mencakup mencakup:
A.     Kontrol Administratif
Mempublikasikan kebijakan kontrol yang membuat semua pengendalian sistem informasi dapat dilaksanakan dengan jelas dan serius oleh semua pihak dalam organisasi Prosedur yang bersifat formal dan standar pengoperasian disosialisasikan dan dilaksanakan dengan tegas. Termasuk dalam hal ini adalah proses pengembangan sistem, prosedur untuk backup, pemulihan data, dan manajemen pengarsipan data Perekrutan pegawai secara berhati-hati, yang diikuti dengan orientasi, pembinaan, dan pelatihan yang diperlukan
B.     Kontrol terhadap Pengembangan dan Pemeliharaan Sistem
Melibatkan Auditor sistem, dari masa pengembangan hingga pemeliharaan sistem, untuk memastikan bahwa sistem benar-benar terkendali, termasuk dalam hal otorisasi pemakai sistem  Aplikasi dilengkapi dengan audit trail sehingga kronologi transaksi mudah untuk ditelusuri
C.     Kontrol Operasi 
Tujuan agar sistem beroperasi sesuai dengan yang diharapkan, yang termasuk dalam hal ini adalah :
·         Pembatasan akses terhadap pusat data
·         Kontrol terhadap personel pengoperasi 
·         Kontrol terhadap peralatan (terhadap kegagalan)
·         Kontrol terhadap penyimpan arsip
·         Pengendalian terhadap virus

D.    Perlindungan Fisik Terhadap Pusat Data 
Faktor lingkungan yang menyangkut suhu, kebersihan, kelembaban udara, bahaya banjir, dan keamanan fisik ruangan perlu diperhatikan dengan benar Untuk mengantisipasi kegagalan sumber daya listrik, biasa digunakan UPS dan mungkin juga penyediaan generator
E.     Kontrol Perangkat Keras 
Untuk mengantisipasi kegagalan sistem komputer, terkadang organisasi menerapkan sistem komputer yang berbasis fault-tolerant (toleran terhadap kegagalan) Toleransi terhadap kegagalan pada penyimpan eksternal antara lain dilakukan melalui disk mirroring atau disk shadowing, yang menggunakan teknik dengan menulis seluruh data ke dua disk secara paralel
F.      Kontrol Akses Terhadap Sistem Komputer
Setiap pemakai sistem diberi otorisasi yang berbeda-beda  Setiap pemakai dilengkapi dengan nama pemakai dan password. Penggunaan teknologi yang lebih canggih menggunakan sifat-sifat biologis manusia yang bersifat unik, seperti sidik jari dan retina mata, sebagai kunci untuk mengakses system
G.    Kontrol Terhadap Akses Informasi
      Penggunaan enkripsi

Sumber:
http://faridmohammad24.blogspot.com/